Ramadhan Bersama Papa


"Saya pernah diundang mengisi ceramah pada ta'ziyah seorang bapak yang meninggal bertepatan dengan bulan ramadan setahun yang lalu" Demikian ustadz Anwar Ibrahim hafidzahullah berkisah di sela tausiyahnya sebelum tegak shalat tarawih berjama'ah. "Bapak yang meninggal dunia ini semasa hidupnya tak pernah melewatkan satu waktu shalat tanpa berjama'ah di masjid sekalipun hujan deras melanda. Oleh isterinya disiapkan dua buah payung untuk berjaga. Satu payung besar yang dipakai ketika hujan menderas, satu lagi payung berukuran sedang jikalau hendak ke masjid bertepatan dengan rintik yang tak seberapa. Bapak ini pun senantiasa rutin mengamalkan ibadah sunnah meski usianya tak lagi muda." Lanjutnya berkisah.

"Di ramadan tahun lalu, Allah memanggilnya dengan cara mulia. Cara yang membuat iri setiap penta'ziyah yang berbondong hadir mendoakannya. Sore itu, jelang berbuka, setelah menyempurnakan wudhu, berpakaian rapi seperti biasanya, bapak ini pun duduk di kursinya bersiap menanti waktu berbuka sembari merapalkan zikir dan doa mengikuti lantunan yang berasal dari salah satu stasiun radio yang sedang mengudara. Dan di detik sebelum berbuka itulah Allah memanggilnya. Bahkan beliau belum sempat meneguk air untuk membasahi kerongkongan setelah seharian menahan lapar dahaga. Beliau menemui Rabbnya dalam keadaan masih berpuasa." 

Sampai di sini ustadz terdiam sejenak membiarkan para jama'ah dengan pikirannya masing-masing. Sementara di deretan shaf belakang, seorang perempuan tergugu menahan haru. Ia tak kuasa menghalau bulir bening yang perlahan turun membasahi jilbabnya. Perempuan itu tak lain anak dari bapak yang diceritakan ustadz dalam kisah barusan yang kehadirannya tak disadari para jama'ah, pun oleh sang ustadz. Kisah yang mungkin saja akan berulang kali diceritakan oleh ustadz di setiap ceramahnya sepanjang ramadan. Kisah yang akan senantiasa menjadi pelajaran berharga bagi setiap pendengarnya. Semoga dengannya Allah berikan rahmat dan maghfirah kepada bapak tersebut yang juga adalah ayah kami, rahimahullah...ㅤㅤ
ㅤㅤ
ㅤㅤ
*Kami ceritakan kembali dg perubahan diksi tanpa mengurangi makna yg disampaikan ustadz.

Komentar

Postingan Populer